Salahkah Menjomblo?

 

 

Jomblo, tentu kalian sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Istilah yang populer di kalangan anak muda yang digunakan untuk menggambarkan status seseorang yang sedang dalam kesendirian atau perumpamaan lainnya ialah seseorang yang tidak mempunyai kekasih. Entah dari mana istilah jomblo itu berasal, yang pasti istilah ini menjadi gelar yang tidak begitu disukai oleh kebanyakan orang khususnya di kalangan anak muda.

Sepertinya menjadi seorang Jomblowers (sebutan bagi para jomblo) itu merupakan sebuah aib bagi mereka. Bagaimana tidak, keberadaannya sering menjadi bahan bully-an (Baca : Hinaan) baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Banyak Jomblowers  yang menjadi penggiat Media Sosial (Medsos) seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sebangsanya. Entah untuk memburu mangsanya (baca: cari jodoh) atau memang hanya untuk menghibur diri dalam kesendirian, tapi biasanya mereka akan menghilang dari peredaran pada saat malam Kamis dan malam Minggu. Katanya sih pantangan dari mbah-nya, padahal mungkin hanya berkelit menghindari bully-an dari netizen yang memang miris sekali ketika melihat bagaimana mereka menjadi bahan hinaan di Medsos.

Jika boleh menuliskannya beginilah kira-kira bunyi celotehan yang mem-bully  Jomblowers di beberapa Medsos, “Jomblo mana jomblo? Mau gue suruh jagain guling gue nih, soalnya gue mau apel dulu.” Sekalinya ada Jomblowers yang ikut meramaikan Medsos pada malam Minggu, ada saja yang mencelanya, “Malam Minggu jomblo pada rame bikin status, paling mau bikin status berdoa minta turun hujan”. Jleeeebs!  Weleh-weleh kejam juga yah.

Ada satu dari teman saya yang berasumsi bahwa dia memilih untuk menjomblo itu karena “Prinsip”, yakin prinsip? Saya pun berkelakar jangan-jangan prinsip yang dia maksud itu merupakan singkatan dari “Perih nahan nasip” hehehe.

Alasan Menjomblo

Ada beberapa alasan kenapa orang memilih untuk menjomblo. Alasannya pun sangat beragam. Saya meminta beberapa teman saya agar bersedia untuk dimintai keterangan dalam memberikan alasannya (kayak penyidikan gitu). Dari 10 orang responden yang saya tanya, saya hanya berhasil mendapatkan 6 orang yang bersedia untuk memberikan alasan kenapa mereka memilih untuk menjomblo.

Alasan orang pertama mengaku jomblo karena dia dilarang pacaran sama mamanya (wah, kalo ini sih adek gue). Ada lagi yang beralasan jomblo karena memang belum pernah pacaran (jiaaah, kalau yang ini temennya adek gue). Ada juga yang berani jujur kenapa dia menjomblo karena dia memang belum laku (nah, kalau yang ini baru temen gue), ada juga yang memilih untuk menjomblo karena dia memang mengikuti perintah ketua partai (maaf gue salah ngambil responden). Ada juga alasan yang miris, menjomblo karena telah mendapatkan tekanan dari para saingan dan orang tua pacarnya untuk segera putus padahal dia masih cinta (oh, kejamnya), dan responden yang terakhir memilih jomblo karena dia telah diputuskan oleh pacarnya dan belum berhasil move on sampai sekarang.

Problematika Jomblo

Selain dicela dan dihina, jomblowers juga mempunyai beragam problematika lainnya seperti berikut ini.

  • Selalu Sendiri

“Masak, masak sendiri… Makan, makan sendiri…. cuci baju sendiri….. tidur pun sendiri“.
Seperti lirik lagu lawas yang dinyanyikan oleh Caca Handika tersebut, jomblowers memang sudah terbiasa hidup sendiri tanpa kekasih.

Maka dari itu, sepertinya hidup mereka menjadi mandiri, pergi nonton sendiri, pergi kondangan sendiri bahkan ke acara ulang tahun teman pun sendiri. Tapi memang terkadang sedih juga jika hidup menjomblo, semua serba dilakukan sendiri. Tidak ada yang spesial Jika ketika mempunyai pacar semuanya menjadi spesial, misalkan memiliki hari spesial seperti hari jadian, hari ulang tahun pacar, dan sebangsanya.

Maka Jomblowers tidak akan merasakannya, semua hari sama di mata mereka, tidak ada yang spesial kecuali nasi goreng spesial pake telor dan tidak juga ada sesuatu yang bisa dirayakan bersama pacar karena memang tidak mempunyai pacar. Memang nasib kaum jomblo, sekedar berharap ada yang mengingatkan untuk makan, mandi dan tidur pun tidak ada.

  • Banyak mengeluh

Biasanya hidup dalam kesendirian itu lebih banyak mengeluh, apalagi ketika melihat teman pergi ke mana-mana selalu bersama pacarnya, dapat perhatian dari pacarnya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi dan sebagainya.

Menjadikan Jomblowers dapat mengidap penyakit hati kronis, keluhan demi keluhan pun dirasakan dan tidak jarang mereka akhirnya hanya bermuram durja lalu berdiam diri di kamarnya sendirian.

  • Kurang Perhatian

Biasanya Jomblowers kurang mendapatkan perhatian, maklum jomblo jadi tidak ada yang memperhatikannya. Apalagi jika yang jomblo itu pria, tidak ada perempuan yang memperhatikannya kecuali ibu, nenek, bibi, dan kakak perempuannya, itu pun jika dia memiliki kakak perempuan.

Maka dari itu, mereka sering mencari perhatian dengan cara lain. Salah satunya lewat medsos. Banyak dari mereka yang menggunakan medsos sebagai sarana mencari perhatian lawan jenisnya dalam mencari jodoh.

  • Hidupnya kurang berwarna

Biasanya menjomblo selalu merasa hidupnya kurang berwarna, tidak ada teman berbagi cerita, canda tawa dan canda begitu katanya, bahkan kata para pujangga hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Apakah benar begitu?. Entahlah, beberapa pengalaman teman saya yang pernah menjomblo sih begitu.

Keseruan Menjomblo

Menjadi jomblo tidak selalu menyedihkan, banyak juga yang dapat dilakukan ketika menjomblo dan banyak juga keseruannya seperti berikut ini.

  • Bebas

“Im single and very happy” penggalan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Oppie Andaresta tersebut menggambarkan bahwa tidak perlu bersedih dengan kesendirian (jomblo), karena single itu menyenangkan meskipun sendiri tanpa kekasih tetap bahagia asalkan dinikmati. Jika boleh menerjemahkan dari lirik lagu tersebut, ya saya akan menggambarkannya seperti itu.

  • Hemat

Jika ketika mempunyai pacar tidak jarang mengajak makan di luar, shopping, nonton dan lainnya. Maka menjadi jomblowers akan menghemat pengeluaran biaya tersebut, karena apa? Jawabannya ya karena jomblo itu hidup sendiri jadi dapat memangkas pengeluaran biaya seperti itu.

  • Banyak Gebetan

Jika yang berpacaran itu hanya memiliki satu hati yang telah dipilih, maka berbahagialah bagi para jomblowers yang memiliki banyak hati untuk dipilih. Namanya juga jomblo, dilarang pantang menyerah sebelum mendapatkan gebetan.

Hilang satu tumbuh seribu begitu menurut pepatah, jomblo itu harus pantang menyerah dan keberuntungan dari menjomblo itu banyak pilihan untuk menjadi target operasi dalam mencari jodoh.

 

Lalu Salahkah Menjomblo?
Menurut saya menjomblo itu merupakan pilihan. Selama tidak merugikan siapa pun, apa salahnya hidup menjomblo?. Bukankah hidup itu terlalu singkat jika dilewatkan bersama pilihan yang tidak tepat.

So, menjomblo itu dihalalkan selama tidak melanggar undang-undang dasar, pancasila dan aturan agama. Menjomblo juga bukan penderitaan. Banyak yang dapat dilakukan ketika menjomblo yang tidak dapat dilakukan ketika memiliki pacar.

Menurut saya jangan pernah terbebani oleh status jomblo, karena menjomblo bukan berarti akan kiamat dan teruslah berkonsentrasi untuk melakukan yang terbaik walaupun dalam kesendirian sampai pada akhirnya mendapatkan pelabuhan terakhir yang bernama pernikahan.

Menurut kamu gimana? tulis di kolom komentar aja ya pendapatnya.

Terimakasih.

 

fadli ulil

Seorang blogger yang ingin berbagi manfaat lewat tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *